Pesan Acandra Tahar, Pentingnya Penguasaan Teknologi Migas - Anak Teknik Indonesia

Pesan Acandra Tahar, Pentingnya Penguasaan Teknologi Migas

Kementerian ESDM harus menjadi pioneer dalam belajar dan menerima teknologi baru untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam bagi kemakmuran rakyat Indonesia dan mendorong industri dalam negeri untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri serta melakukan transfer teknologi..

wakil menteri esdm
Acandra Tahar-Wakil Menteri ESDM/EnergiToday.com
Perlu sobat teknik ketahui bahwa saat ini, pertumbuhan penduduk dan ekonomi masyarakat mengakibatkan juga meningkatnya kebutuhan di sektor Migas. Sehingga Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyiapkan aturan baru mengenai penggunaan teknologi minyak dan gas bumi (migas). Tujuannya adalah untuk meningkatkan produksi migas yang mulai menurun. Permasalahan produksi migas memang menjadi sorotan pemerintah saat ini. Menurut Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, produksi migas di Indonesia menurun rata-rata 12 persen per tahun.

Menurut Acandra, teknologi baru adalah salah satu solusi menuju kemandirian energi di Indonesia yang selama ini dicita-citakan. Paling tidak, angka produksi minyak masih tetap di atas 800 ribu barel per hari (bph). “Pemerintah maunya produksi  naik dalam lima tahun ini, tidak boleh turun," kata Arcandra. Acandra Tahar adalah alumni Teknik Mesin ITB yang sudah memiliki pengalaman selama 14 tahun di bidang Hidrodinamika dan teknik offshore. Dimana sebelumnya beliau pernah menjabat sebagai presiden perusahaan Petroneering di Houston, Amerika Serikat. Beliau juga telah memiliki 3 paten terkait teknologi offshore, yakni salah satunya Floating Platform.
Baca : 

Gak Nyangka Orang-Orang Hebat Ini Ternyata Lulusan Teknik !
Pesan Teruntuk Gen Z, Mahasiswa Masa Kini

Selain penerapan teknologi terbaru, Acandra menilai pentingnya akuntablitas, resources serta sumber daya manusia yang berkompeten di sektor migas untuk memacu produksi. Menurutnya Indonesia harus banyak belajar dengan negara lain terkait kebijakan di sektor migas. Karena saat ini Indonesia masih belum bisa mengetahui di mana letak cadangan migas yang tersisa karena memang belum ada teknologi yang mampu mendeteksi secara tepat keberadaan migas.

Tingkat kompleks permasalahan teknologi tersebut yang membuat biaya mahal untuk upaya eksplorasi sebab tidak semua memiliki teknologi yang memadai walau sumber daya manusia sudah mumpuni. Dengan adanya kehadiran teknologi, efisiensi produksi migas dapat dicapai. Salah satu solusinya adalah bermitra dengan pihak swasta atau asing yang memiliki dukungan teknologi tersebut.

“Apalagi sekarang ini adalah era marginal fields, offshore termasuk deepwater, tight dan shale oil/gas dan EOR. Era baru ini diperparah oleh lokasi yang terpencil dan infrastruktur uyang minim,” tambahnya.

Tantangan untuk memulai era baru sangat berat. Apalagi produksi mingas nasional yang terus menunjukkan penurunan dan Reserve Replacement Ratio yang rendah, menjadi salah satu pertanda Indonesia belum siap menjadi bagian dari era baru. Namun demikian, Menteri ESDM meyakini Indonesia tidak akan berpangku tangan menghadapi tantangan ke depan. Transformasi sektor ESDM baik di bidang minyak dan gas, energi baru terbarukan, minerba, listrik untuk rakyat, bertumpu pada tiga pilar." paparnya

Pertama, membuat business procces yang efisien, transparan dan terukur.
Kedua, sumber daya manusia yang kompeten yang ditunjang dengan skill, knowledge, dan experience. 
Ketiga, memanfaatkan teknologi yang tepat guna dan tepat sasaran, sehingga sumber daya manusia dan business procces yang dibangun bisa lebih efektif dan efisien, paparnya.

Arcandra juga menekankan, dalam belajar dan menerima teknologi baru kita harus mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam bagi kemakmuran rakyat Indonesia. Namun semua itu harus dilakukan dengan regulasi yang benar, business ethic dan business process yang benar yang dilakukan oleh pekerja yang handal dan kompeten di bidangnya. Pola pikir yang membuat jarak antara regulator dan pelaku bisnis harus dihilangkan. “Regulator sebaiknya juga dapat berlaku sebagai business partner dari pelaku bisnis, yang harusnya bisa bersama-sama mencari solusi dari setiap permasalahan yang timbul untuk kepentingan bersama. Sehingga regulator tidak dianggap sebagai sumber masalah ataupun raja dari sebuah business process,”

Baca : Kampus ITB Banyak Cetak Startup Sukses !
Reactions:

Post a Comment

[blogger][disqus]

Anak Teknik Indonesia

{facebook#http://facebook.com/anakteknikindo} {twitter#http://twitter.com/anakteknik_indo} {google-plus#https://plus.google.com/u/1/112266505972443903778} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCR1tKZMcziD2LTo-W3daKAQ} {instagram#http://instagram.com/anakteknikindo}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget