(Opini) Teruntuk Gen Z, Mahasiswa Masa Kini - Anak Teknik Indonesia

(Opini) Teruntuk Gen Z, Mahasiswa Masa Kini

Mahasiswa teknik

Penulis: Ghulam Zaky (Teknik Mesin ITB)

Kegiatan mahasiswa Indonesia saat ini menghadapi tantangan perubahan zaman. Krisis komitmen dan kehadiran kader dalam sebuah lembaga semakin hari semakin bertambah parah.

Ketua lembaga menjadi tumbal lembaga. Kepala divisi menjalankan one-man-show-division karena kehilangan staf, menghasilkan trauma dan alergi berkegiatan yang berkepanjangan.

Generasi me, me, me yang mencari eksistensi pengakuan diri tidak lagi mau menjadi subordinat mahasiwa lain, mereka akan mencari wadah lain yang bida membuat mereka bisa lebih eksis.

Forum-forum hearing calon ketua anu diikuti audiens berjumlah kurang dari setengah kelas formal kuliah dan mayoritas audeins adalah mahasiswa yang berkepentingan kedapatan kue jabatan dari si calon.

Lembaga-lembaga menjadi eksklusif, tidak peduli lembaga lain, dan menjunjung tinggi kebebasan. Student government diperkarakan, dikritik, dihujat, dan dibubarkan.

Para alumni dan generasi tua kampus berteriak-teriak menyuarakan idealisme, kuota forum, kesatuan angkatan, dan tetek bengek lain warisan perjuangan reformasi. Namun, semua tuli dan tak peduli.

Para senior mengospek juniornya dengan kata retorika manis berbunga, sambil di dalam hati membohongi diri sendiri karena idealisme mereka pun sudah mati.

Dunia virtual terus tumbuh dan meledak tanpa terkendali, termasuk di kalangan mahasiswa. Jumlah grup LINE yang dimiliki tiap mahasiswa manyentuh angka tiga digit.

https://www.instagram.com/anakteknikindo/

Artis-artis instagram kampus semakin populer, dengan follower ribuan fans yang mendamba, menjadikan si artis sebagai referensi style and coolness.Vlog-vlog bermunculan bagai jamur di Youtube, tidak jarang isinya kegiatan sehari-hari si artis vlog yang sama sekali tidak penting.

Mayoritas mahasiswa muda ini menghabiskan waktu luang untuk scrollingInstagram dan menonton Youtube alih-alih berdiskusi membahas permasalahan negeri.

"Mayoritas mahasiswa muda ini menghabiskan waktu luang untuk scrolling Instagram dan menonton Youtube alih-alih berdiskusi membahas permasalahan negeri"

Di sisi lain, Pekan Kreativitas Mahasiswa menjadi trend baru, dengan jumlah partisipan yang berkembang secara eksponensial. Kampus-kampus berlomba mengadakan kompetisi antarmahasiswa.

Perusahaan multinasional tak lupa mengadakan sayembara dengan insentif mega bonus, salah satu cara paling mudah dan murah untuk mendapat ide-ide segar dari generasi muda.

Exchange ke luar negri, ikut konferensi internasional menjadi tujuan. International exposure terlihat seksi di kalangan mahasiswa. Kondisi sangat sangat kompetitif dan cenderung brutal.

What went wrong? Adakah yang salah? Siapa? Anak zaman sekarang? Teknologi? Android? Para senior yang sok idealis? Atau generasi baru yang apatis?

Setelah saya beberapa kali menjadi korban tumbal lembaga, saya insyaf dan mencoba mencari tau jawabannya. Pencarian ini membawa saya pada teori tentang generasi dan sifat-sifat yang dimiliki oleh generasi saya.

Gen Z atau Generasi Android

Anak teknik
https://www.instagram.com/anakteknikindo/

Makhluk baru yang mengoyak-ngoyak sistem kegiatan mahasiswa yang sudah mapan selama satu dekade terakhir itu bernama gen Z. Gen Z atau generasi Android adalah generasi yang lahir mulai tahun 1994 menurut Mark McCrindle dalam buku The ABC of XYZ. Atau dalam bahasa kampus, gen Z adalah mayoritas angkatan 2012 ke bawah.

Jika diasumsikan mahasiswa lulus tepat waktu 4 tahun, baru pada tahun inilah, tahun 2016, seluruh angkatan mahasiswa di suatu kampus dari senior hantu lab hingga junior dengan jaket almameter baru adalah gen Z.

Para penjaga nilai, sisa-sisa terakhir hegemoni generasi Y, sudah lulus atau sedang mati-matian untuk lulus. Hal ini menandakan akan terjadinya transformasi besar-besaran di kampus. Lonceng perubahan tinggal menunggu waktu.

Teori Generasi

Anak teknik
https://www.instagram.com/anakteknikindo/

Izinkan saya berlaku sotoy terlebih dahulu. Sotoy saya ini memang perlu kritik dan revisi. Namun, saya harus sedikit sotoy karena teori generasi global yang banyak dibahas di dunia maya memilki perbedaan yang signifikan dengan realita generasi lokal dan perlu asumsi tambahan.

Saya membatasi asumsi sotoy ini sebatas pada peristiwa besar yang dihadapi dan teknologi yang umum digunakan.

Gen X (lahir antara 1965-1980) adalah generasi yang merasakan masa kanak-kanak dan mudanya dalam cengkraman hegemoni Orde Baru. Kebebasan adalah barang mewah bagi mereka dan persatuan kelas tertindas adalah harga mati untuk mendobrak status quo.

Generasi inilah yang mewariskan perubahan reformasi 1998. Mereka pula yang mewariskan infrastruktur dan suprastruktur kegiatan mahasiswa, lengkap dengan metode dan budayanya, kepada generasi penerus.

Gen Y (lahir antara 1980-1994) adalah generasi penuh gejolak dan ketidakstabilan politik. Mereka ikut terlibat dalam reformasi. Mereka menjadi motor penggerak kegiatan mahasiswa pada era Gus Dur dan Megawati.

Sikap pemerintah yang nyentrik dan kadang nyeleneh pada masa ini mendapat tantangan besar dari mahasiswa. Mahasiwa menjadi watchdog kebijakan pemerintah.

Infrastruktur dan suprastruktur warisan gen X terbukti berguna bagi para aktivis gen Y. Teknologi portable HP dan laptop mulai berkembang, layanan SMS dan Email adalah komunikasi paling umum digunakan. Namun, kecepatan internet terlalu lambat dan terlalu mahal untuk kantong aktivis.

Gen Z (lahir antara 1994-2010) adalah generasi yang merasakan kestabilan politik pada saat mereka bisa berpikir dan mengingat dengan baik. Gen Z masih terlalu kecil ketika era reformasi dan ketidakstabilan politik di Indonesia bergulir.

Politik yang relatif stabil pada era SBY dan Jokowi ini membuat gen Z tidak memiliki kesadaran akan pentingnya menjadi watchdog pemerintah ataupun pihak penguasa lain.

"Politik yang relatif stabil pada era SBY dan Jokowi ini membuat gen Z tidak memiliki kesadaran akan pentingnya menjadi watchdog pemerintah ataupun pihak penguasa lain"

Lebih dari itu, masa remaja gen Z adalah masa ketika smartphone dan android mulai booming. Internet menjadi cepat dan murah sehingga digunakan masyarakat luas. Karena itu mereka disebut pula generasi android.

Situasi dan teknologi ini membentuk generasi yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Budaya narsis merajalela, komunikasi menjadi cepat dan bersifat multimodal, informasi ditembakkan ke otak mereka dalam jumlah yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Iklan komersial menyisipi otak gen Z dengan budaya konsumerisme dan angan-angan hidup ala sinetron. Hal ini sukses meciptakan generasi yang sangat kompetitif, selfish, dan benefit oriented.

Tools Baru untuk Kemahasiswaan

Mahasiswa teknik
https://www.instagram.com/anakteknikindo/

Dari hasil penjelasan panjang lebar di atas, saya berpendapat bahwa tools kegiatan mahasiswa kita, baik infrastruktur maupun suprastruktur, lengkap dengan metode dan budayanya, sudah outdated dan tidak menjual untuk generasi sekarang.

Saya tidak mengatakan bahwa warisan gen X tersebut adalah sesuatu yang buruk dan tidak perlu dipertahankan. Namun, akan terlalu banyak usaha yang dilakukan dengan output yang sangat minim untuk melawan perubahan zaman.

Perubahan tersebut bisa bersifat minor ataupun mayor, saya juga belum tahu. Memahami generasi ibarat bermain surfing, Anda tidak bisa menciptakan ombak, Anda hanya menyesuaikan posisi Anda agar dapat menaiki ombak.

Saya pribadi pernah mencoba membuat berbagai inovasi dan terobosan agar bagian kegiatan mahasiswa yang saya terlibat di dalamnya dapat “terjual” di masa kampus.

Rapat online, pelatihan online, video motivasi, hingga usulan pembuatan organigram yang gemuk dengan jobdesc yang ramping. Semua itu saya lakukan agar kegiatan mahasiswa tidak ketinggalan zamn. Namun, output yang didapat dari hasil coba-coba sotoy saya belum membuahkan hasil.

Saya sadar mungkin hingga saya lulus pun mungkin belum ditemukan tools baru yang efektif dan menjual di dalam kegiatan mahasiswa kita. Karena itu, tulisan ini adalah bentuk mawas diri saya bahwa saya tidak mungkin menemukannya sendiri.

Uneg-uneg ini saya sebar kepada pejuang kegiatan mahasiswa lain sebagai tantangan agar kita mampu membuat tools baru atau mentransformasi tools yang ada dalam ranah kegiatan mahasiswa.

Tidak lain tujuannya agar kegiatan mahasiswa bermanfaat dan berkembang, kegiatan mahasiswa berhenti membohongi diri sendiri, kegiatan mahasiswa berhenti menumbalkan para pejuangnya.

Saya Mahasiswa Generasi Y ke Z

===========================

Reactions:

Post a Comment

bro, gw baru baca ini..thank you banget...gw juga sesama pejuang organisasi hehe

[blogger][disqus]

Anak Teknik Indonesia

{facebook#http://facebook.com/anakteknikindo} {twitter#http://twitter.com/anakteknik_indo} {google-plus#https://plus.google.com/u/1/112266505972443903778} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCR1tKZMcziD2LTo-W3daKAQ} {instagram#http://instagram.com/anakteknikindo}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget