Benarkah "Energi Terbarukan" 100 % Di Jerman & Denmark - Anak Teknik Indonesia

Benarkah "Energi Terbarukan" 100 % Di Jerman & Denmark

Mari Belajar kesalahan dari Jerman dan Denmark. Apakah panel surya dan turbin angin bisa berguna bila digunakan dalam skala besar untuk listrik?

jerman

Sebagian kalangan pemuja "energi terbarukan" (yakni panel surya dan turbin angin) menggembar gemborkan negara Jerman dan Denmark sebagai negara yang berhasil dengan proyek "energi terbarukan" untuk mengantikan energi fosil tanpa perlu menggunakan nuklir. Jerman mempublikasikan akan berniat beralih dari nuklir pada 2022, sementara Denmark mencekal nuklir sejak 1980-an. Keduanya menggunakan proyek ambisius, yaitu dengan hanya menggunakan panel surya dan turbin angin untuk memenuhi lebih dari 80% kebutuhan listrik negaranya. Benarkah demikian ??

Baca Juga :  Nasib Mobil Listrik Karya Anak Bangsa VS Negara Lain ! MIRIS !

germany
Perlu diketahui bahwa Jerman dan Denmark masih tetap melepaskan emisi CO2 tinggi ke lingkungan. Bahkan bisa lebih tinggi daripada negara-negara yang tidak seambisius mereka, seperti Australia, Uruguay, Kanada dan Perancis, memang tergantung fluktuasi angin dan sinar matahari. Pasalnya, mereka tetap butuh pada energi fosil, semacam batubara dan gas alam, sebagai backup bagi "energi terbarukan" yang tidak reliabel dan tidak berguna dalam skala jaringan listrik. Buktinya dapat dilihat situs electricitymap.org
renewable energy
Gambar di atas merupakan emisi ekivalen CO2 yang dihasilkan oleh Jerman dan Denmark per kWh listrik yang diproduksi. Terlihat Denmark melepaskan jauh lebih sedikit CO2 per kWh yakni 90 g ketimbang Jerman yang mencapai 429 g. Sedangkan Kanada jauh lebih kecil yakni 12 g saja dan tanpa menggunakan fosil. Artinya, listrik yang diproduksi di Kanada adalah yang paling bersih. Bahkan tiga besar listrik terbersih di Eropa.

Padahal Jerman telah menghabiskan lebih dari USD 1,1 trilyun untuk Renewable Energy yang nyatanya Jerman masih sangat tergantung pada batubara, yang notabene merupakan bentuk energi paling kotor dan polutif. Lebih buruk lagi, setengah dari batubaranya menggunakan lignite, tipe batubara dengan kualitas paling rendah, boros dan kotor. Penutupan terhadap 8 reaktor nuklir Jerman memaksa pemerintah untuk membuka PLTU batubara baru!

denmark
Sedangkan Denmark yang mengklaim menggunakan 100% “energi terbarukan”. Nyatanya, Denmark tetap menggunakan backup dari batubara dan gas alam. Karena biar bagaimanapun, angin tidak berembus tiap saat. Ada waktu ketika angin sama sekali tidak berembus. Jadi harus bagaimana? Pakai energi fosil.

Dan parahnya, listrik di Jerman dan Denmark adalah YANG PALING MAHAL DI EROPA.

Tarif listrik di Jerman dan Denmark sekitar USD 40 sen/kWh, atau Rp 5200/kWh (kebayang bayar listrik segitu mahal? Di Indonesia aja yang listrik nonsubsidi seharga 1600/kwh aja keberatan). Kenapa mahal? Untuk menyubsidi turbin angin dan panel surya yang mahalnya minta ampun, ditambah lagi untuk mengompensasi penyedia listrik dari batubara dan gas alam yang tidak boleh beroperasi ketika produksi listrik dari turbin angin dan panel surya sedang tinggi-tingginya. Serba repot pengelolaannya....

Baca Juga :  Pesan Acandra Tahar, Pentingnya Penguasaan Teknologi Migas
Reactions:

Post a Comment

[blogger][disqus]

Anak Teknik Indonesia

{facebook#http://facebook.com/anakteknikindo} {twitter#http://twitter.com/anakteknik_indo} {google-plus#https://plus.google.com/u/1/112266505972443903778} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCR1tKZMcziD2LTo-W3daKAQ} {instagram#http://instagram.com/anakteknikindo}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget