Nalar Teknokrasi, Keberpihakan dan Kesadaran Kelas Para Calon Insinyur - Anak Teknik Indonesia

Nalar Teknokrasi, Keberpihakan dan Kesadaran Kelas Para Calon Insinyur

Teknokrasi

[info title="Dikutip dari" icon="info-circle"] Ahmad Mizdad Hudani (Mahasiswa Fakultas Teknik UGM) [/info]
Diawali kebijakan dari UGM yang berkaitan dengan portal. Berbagai tulisan muncul di media sosial. Tulisan-tulisan yang muncul mengungkapkan pendapat tentang kebijakan UGM tersebut. Kebijakan UGM tentang portal yang dimaksud, adalah pemberian portal dijalan olahraga. Berdasarkan pengumuman dari pihak UGM, jalan tersebut yang sebelumnya bisa diakses secara bebas, sekarang hanya diperuntukkan bagi sivitas dan tamu UGM. Masyarakat umum yang melintasi jalan olahraga diminta untuk beralih ke jalan lingkar timur atau jalan kaliurang. Kebijakan ini merupakan penerapan dari visi dan arah pengembangan fisik kampus UGM untuk mewujudkan educopolis(educopolis adalah suatu lingkungan yang kondusif untuk proses pembelajaran dalam konteks pengembangan kolaborasi multidisiplin dan tanggap terhadap isu ekologi demi mencapai visi universitas (Universitas Gadjah Mada, 2004)). 

Tulisan-tulisan yang bertebaran di media sosial, membagi mahasiswa antara kubu pro dan kontra kebijakan. Para kubu pro kebijakan berpendapat bahwa kebijakan ini sudah pas. Secara umum mereka beralasan bahwa jalan olahraga yang ramai kendaraan rawan kecelakaan, hal ini dikarenakan letak lahan parkir dengan kampus terpisahkan oleh jalan olahraga, sehingga mahasiswa yang mau menuju ke kampus harus menyebrang melalui jalan olahraga. Alasan yang lain adalah seringnya kasus pencurian, yang dialamatkan pada pihak luar kampus sebagai pelaku pencurian. 
Bahaya Teknokrasi
Sementara dari pihak kontra kebijakan, berpendapat bahwa kebijakan UGM akan memisahkan para sivitas akademika UGM dengan masyarakat sekitar. Mereka menganggap UGM seperti kacang lupa kulitnya. Jargon sebagai kampus kerakyatan pun dipertanyakan, apakah kerakyatan yang dimaksud hanyalah sebatas caping yang dipakai pada masa PPSMB?. Konsep kampuseducopolis yang direncanakan UGM, dirasa jauh dari kata kerakyatan. Karena menutup akses keterbukaan terhadap rakyat sendiri. Maka muncullah pertanyaan lain, kerakyatan yang dimaksud rakyat yang mana?. 

Di antara tulisan-tulisan yang beredar di dinding sosial media, ada hal yang menarik dalam perang opini yang terjadi. Salah seorang yang pro kebijakan kampus, Kemal Ferdianto, menuliskan pendapatnya beserta analisis dari bidang keilmuannya, Teknik Sipil dengan konsentrasi Transportasi. Dia mengatakan bahwa kebijakan kampus sesuai dengan teknik dan manajemen lalu lintas. Salah satu cara mengurangi jumlah kendaraan adalah dengan menghilangkan aspek kenyamanan bagi pengguna jalan. Maka kebijakan UGM ini dianggap sebagai langkah menuju zero emission campus (Ferdianto, 2017).

Ingin mengetahui artikel lengkapnya silahkan share dengan klik tombol dibawah ini:
[lock] [/lock]
Labels:
Reactions:

Post a Comment

[blogger][disqus]

Anak Teknik Indonesia

{facebook#http://facebook.com/anakteknikindo} {twitter#http://twitter.com/anakteknik_indo} {google-plus#https://plus.google.com/u/1/112266505972443903778} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCR1tKZMcziD2LTo-W3daKAQ} {instagram#http://instagram.com/anakteknikindo}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget